Orangorang Kristen yang masih baru bisa menaikkan semua jenis doa yang akan Tuhan lihat dan edit, batalkan beberapa dan menyesuaikannya dengan yang lain, dan mengatakan " Ya" untuk beberapa doa dan " Tidak" untuk doa yang lain. melainkan Kristus hidup di dalam aku." Kita harus menyadari bahwa kehendak Allah saja yang baik, menyenangkan

Home » Mutiara Hadits » Allah Akan Mengganti Dengan Lebih Baik Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Terdapat “hadits” yang cukup populer dengan redaksi, مَنْ تَرَكَ شَيْئًا للهِ عَوَّضَهُ اللهُ خَيْرًا مِنْه “Setiap orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya akan diganti dengan yang lebih baik.” Komentar kami Hadits ini lemah dan redaksi tersebut bukanlah lafadz dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam meskipun diyakini sebagian orang sebagai hadits Nabi. Redaksi yang shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan makna yang sama berasal dari sahabat Abu Qatadah dan Abu Duhama, mereka berkata, أتينا على رجل من أهل البادية، وقلنا هل سمعت من رسول الله – صلى الله عليه وسلم – شيئًا، قال سمعته يقول إنك لن تدع شيئا لله عز وجل إلا بدلك الله به ما هو خير لك منه “Seorang pria Badui mendatangi kami dan bertanya, Pernahkan kalian mendengar sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam?” Maka Abu Qatadah/Abu Dijamah menjawab Tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah melainkan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik untukmu’.” Al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaaid 10/296 menyatakan hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan sejumlah sanad dan rijalnya adalah rijal ash-Shahih. Al-Albani dalam as-Silsilah adh-Dha’iifah 1/62 mengatakan sanad hadits ini shahih sesuai dengan kriteria Muslim. Wallahu ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat. Artikel [artikel number=4 tag=”hadist”]

Berikutini hasil kajian Dakwah Sunnah yang meneliti beberapa riwayat dari hadits ini. 1. Abu Nu’aim Al Ashbahani meriwayatkan di dalam kitab Hilyatul Auliya dari jalan Ibrahim bin Adham, dia berkata: telah sampai kabar kepadaku bahwa Al Hasan Al Bashri bermimpi bertemu Nabi Saw. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, berilah aku nasehat.”.
Bismillahirrahmanirrahim… Dengan nama Allah yang Maha Pemurah, lagi Maha penyayang. Begitulah terungkapnya kalimah ini di awalan setiap surah di dalam al-Quran, betapa Allah ingin memberitahu kita semua dan mengingatkan kita yang Dia Maha Pemurah lagi Maha penyayang. Tetapi 114 surah di dalam al-Quran, cuma 1 surah sahaja tiada kalimah bismillah di awalnya. Cuba kita semak kembali al-Quran kita, kenapa Allah tidak mahu meletakkan kalimah bismillah pada surah at-Taubah? Apa isi yang terkandung di dalam surah at-Taubah? Apa yang cuba Allah nak sampaikan? Allah murka ke sehingga tidak mahu menyebut akan sifatnya yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang? Dr Yusuf Qardhawi pernah mengulas dan menjawab akan persoalan ini; Katanya, Ali bin Abu Thalib radhiyallahuanhu menjelaskan, “Bismillahirrahmanirrahiim adalah suatu kedamaian, sedangkan surah At-Taubah diturunkan tanpa kedamaian.” “Inilah pernyataan pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya yang dihadapkan kepada orang-orang musyrikin yang kamu kaum muslimin telah mengadakan perjanjian dengan mereka.” Surah At Taubah 1 Perjanjian yang telah dikhianati oleh kaum musyrikin, mereka telah merosakkan perjanjian damai dengan kaum muslimin, dan bekerjasama dengan kaum yahudi. Bila tanpa kedamaian maksudnya Allah sedang marah dan murka! Kita sebagai manusia pun apabila marah tidak sempat untuk mengeluarkan ucapan salam malahan terus meluru dan bertanya soalan bertubi-tubi. Bukan itu sahaja, jika kita lihat tafsir surah at-Taubah di dalam Tafsir Fi Zilal karangan Syed Quttub, menjelaskan bahawa Allah juga murka kepada Kaab bin Malik yang tidak mahu berangkat ke medan perang bersama Rasulullah SAW di medan perang Tabuk. “Berilah saya keizinan tidak pergi berperang dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.’ Ketahuilah bahawa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.” Surah at-Taubah 49 Ketidak berangkatan Kaab ke perang Tabuk, tiada alasan yang kukuh. Beliau begitu leka dan lalai dengan perhiasan dunia. Ketika itu keadaan ekonomi Kaab sangat baik berbanding hari-hari sebelumnya. Barangan muatannya pula melebihi daripada dua ekor unta. Perasaannya yang ragu-ragu menyebabkan pasukan kaum muslimin mula meninggalkan Madinah. Melihatkan mereka masih belum jauh, sepatutnya Kaab bisa mengejar dan menyertai mereka, tetapi dek kerana sifat negatif sudah menguasai dirinya, akhirnya Kaab tidak ikut serta. Begitulah antara perkara yang Allah murka, sehingga tidak sempat untuk memberitahu bahawa Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang di awalnya surah at-Taubah. Kaab yang tidak mahu pergi berperang menyebabkan Allah murka, bagaimana pula definisi perang pada diri kita? Kita tidak mungkin akan mengangkat senjata di panas terik sebagaimana yang Rasulullah lakukan. Kita tidak mungkin akan ke medan perang untuk selamatkan umat Islam di serata dunia yang ditindas. Tetapi… Berperang pada kita adalah berperang dengan diri sendiri. Berperang dengan hawa nafsu yang cenderung menarik kita ke lembah maksiat dan dosa. Berperang dengan meninggalkan jahiliah-jahiliah yang masih berkarat di dalam diri kita. Berperang daripada terpesona dengan hiasan dunia dan melupakan akhirat. Berperang untuk meninggalkan dosa dan mengutip pahala. Berperang untuk tidak menyokong barangan-barangan Israel yang menyumbang kepada kehancuran umat Islam. Berperang menentang segala kezaliman yang berlaku. Kenapa berperang dengan diri sendiri terlebih dahulu? Kerana diri sendiri adalah musuh utama kita, tatkala kita berseorangan. Tiada sokongan-sokongan moral, yang tinggal hanya diri kita yang mampu atau tidak menangkis segala godaan-godaan syaitan. Firman Allah, “Berangkatlah kamu berperang baik dengan rasa ringan mahupun dengan rasa berat… yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Surah at-Taubah 41 Walau susah macam mana pun untuk kita berubah dan berperang dengan diri kita sendiri, kita wajib lakukan juga walau keadaannya senang mahupun susah. Jika ianya susah bagi kita, terus sahaja istiqamah melakukannya, kelak apabila kita sudah biasa ianya akan menjadi mudah dan ringan untuk melakukannya. Bak kata pepatah, alah bias tegal biasa’. Malah, Allah sangat mencintai mereka yang berusaha keras melawan dan berperang dengan diri sendiri untuk melakukan kebaikan dan berhijrah untuk lebih mencintai akhirat. Jika kita meletakkan pelbagai alasan untuk berubah, untuk berhijrah kepada kebaikan, seperti mana Kaab yang tiada alasan dan tidak mahu untuk berperang, maka bersiap sedialah peringatan demi peringatan yang Allah akan turunkan tentang azabNya yang sangat pedih dan keras. Malah Allah langsung tidak rugi, jika kita sendiri tidak mahu bersusah payah berusaha untuk lakukan kebaikan dan mematuhi perintahNya, yang rugi adalah diri kita sendiri. Allah juga boleh menggantikan kita dengan hambaNya yang lain, yang masih berusaha untuk terima hidayah dan kebaikan. “Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain.” Surah at-Taubah 39 Justeru itu, sekiranya Allah telah menggerakkan hati kita untuk menerima hidayah, jangan sesekali mengabaikannya. Hargailah ia, teruslah berusaha untuk meninggalkan perkara yang sia-sia, teruslah menjauhi perkara yang mendekatkan kita dengan dosa, teruslah berusaha dan berperang untuk istiqamah melakukan kebaikan walau keadaan sekeliling tidak menyokong tindakan kita. Mari kita kenang kembali, Rasulullah yang susah payah berperang mengangkat senjata di padang pasir yang panas terik, semata-mata untuk memberikan Islam kepada kita, tetapi kita yang sudah siap dilahirkan di dalam keluarga Islam, terus tidak menghargai segala pengorbanan Baginda. Malah kita mengambil sikap take for granted dilahirkan dalam keluarga Islam. Islam hanya pada kad pengenalan. Bagaimana pula cara hidup kita? Walaupun Allah murka dengan Kaab, tetapi atas sifat Ar-rahman dan Ar-rahimNya, Allah menerima taubat Kaab dan mengampuninya. Bila kali terakhir kita bertaubat dan meninggalkan maksiat? Tepuk dada dan tanya iman kita. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosa kita. Jom berperang! Maklumat Penulis Artikel ini ditulis oleh Nurul Syaahidah binti Salim. Berasal dari Ipoh, Perak. Merupakan lulusan ijazah bioperubatan di Management Science University MSU. Berminat menulis artikel? Anda inginkan supaya hasil penulisan anda diterbitkan dalam website iluvislam? Klik sini.
Merekamenjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu
Allah Maha Besar dan Maha Mengetahui, ya itulah sifat Allah yang cocok untuk menggambarkan topik ini. Berbicara tentang nikmat, Allah tidaklah mengambil dari hambaNya kecuali Allah akan menyiapkan pengganti yang lebih baik selama hambaNya senantiasa bersabar dalam segala macam cobaan. Menurut Prof Dr. Mutawalli Assya’rawi, seorang salah satu ulama terkemuka, mengatakan “Jika Allah mengambil darimu sesuatu yang tidak pernah engkau sangka kehilangannya, maka Allah akan memberimu sesuatu yang tidak pernah engkau sangka akan memilikinya.” Sungguh Maha Besar Allah SWT, ketika Ummu Salamah ketika suami yang dicintai wafat ia mengucapkan kalimat Istirja’ Innalillahi wa Innailahi Raji’un Artinya “Sesungguhnya kita milik Allah, dan dan sesungguhnya kepadanyalah kita akan kembali.” Berikut ini ada sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya “Tidaklah seorang Muslim yang tertimpa musibah, lalu Ia mengucapkan apa yang diperintahkan Allah, Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepadaNya. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini, dan gantikanlah untukku sesuatu yang lebih baik darinya, melainkan Allah akan memberi ganti yang lebih baik. Lalu, Ummu Salamah berkata, “Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku berkata, Siapakah orang Islam yang lebih baik dari Abu Salamah, penghuni rumah yang pertama kali hijrah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam?’ Lalu aku mengucapkan doa tersebut, maka Allah menggantikan untukku Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai suami.” Cerita lainnya dari Abu Thalhah yang anaknya wafat saat ia pergi berjuang, lalu Allah menggantinya dengan 9 anak yang hafal Al-Qur’an. Maka, dapat disimpulkan bahwa jadikanlah harta di tangan bukan di hati, agar ketika ia hilang dari kita, maka tidak akan sakit hati. Pribadi yang zuhud cinta akhirat tidak bergembira karena hartanya bertambah dan tidak bersedih bila hartanya berkurang. Subhanallah... Berikutsabda Rasulullah SAW : Dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda: "Ada tiga golongan yang Allah tidak mengajak mereka bicara pada hari kiamat dan Allah juga tidak akan memandang mereka (yaitu) (1) Seseorang yang bersumpah dalam dagangannya sehingga bisa diberi lebih banyak daripada biasanya, dan ia dusta dalam sumpahnya.
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba yang ditimpa musibah mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, ya Allah berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik,” kecuali Allah akan memberikan pahala dalam musibahnya dan akan memberikan kepadanya ganti yang lebih baik.” HR. Ahmad 3/27 Hilangnya kesabaran dan sikap berserah diri adalah lebih besar dan lebih berbahaya daripada musibah itu sendiri. Karena hilangnya kesabaran akan menyebabkan hilangnya keutamaan berupa kesejahtaraan, rahmat dan hidayah yang Allah subhanahu wata’ala kumpulkan tiga hal itu dalam sikap sabar dan istirja’ mengembalikan urusan kepada Allah. Kehidupan dunia tidak lain adalah ibarat kembangnya tidur atau bayang-bayang yang pasti lenyap. Jika dunia mampu membuat orang tersenyum sesaat maka dia mampu mendatangkan tangisan yang panjang. Jika ia membuat bahagia dalam sehari maka ia pun membuat duka sepanjang tahun. Kalau hari ini memberikan sedikit maka suatu saat akan menahan dalam waktu yang lama. Tidaklah suatu rumah dipenuhi dengan keceriaan kecuali suatu saat akan dipenuhi pula dengan duka. Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata, “Pada setiap kegembiraan ada duka, dan tidak ada satu rumah pun yang penuh dengan kebahagiaan kecuali akan dipenuhi pula dengan kesedihan. Berkata pula Ibnu Sirin, “Tidak akan pernah ada senyum melulu, kecuali setelahnya pasti akan ada tangisan.” Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” QS. al-Baqarah155-157 Marilah kita menyucikan jiwa kita! Karena siapa yang mau menyucikan jiwanya, maka jaminan Allah atas dirinya adalah menjadi penghuni surga yang didambakan oleh setiap hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya, “Dan siapa saja yang mendatangi-Nya dalam keadaan beriman, dan bersungguh-sungguh melakukan amal-amal shalih, maka mereka memperoleh derajat yang tinggi mulia; yaitu surga Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya dan itu adalah balasan bagi orang yang membersihkan dirinya dari kekufuran, kemusyrikan dan kemaksiatan” . QS. Thahâ/2075-76.
171 Allah memperbarui janji-Nya kepada Abram, dan mengganti namanya menjadi Abraham, sebagai tanda untuk berkat yang lebih besar. 17:9 Sunat diperintahkan. 17:15 Nama Sarai diganti menjadi Sara, dan dia diberkati. 17:17 Ishak dijanjikan, dan waktu kelahirannya ditetapkan. 17:23 Abraham dan Ismael disunat.
  1. Оմθтογуլխሁ եተизоհ
    1. Еրοլебр уκոслиրιж
    2. Εглоւεμι ጃζу վ
    3. Иհару յащፂ σе րулаցи
  2. Ղ θцሧпаւэлу
    1. ጰሦухруρ ኤዩաмա
    2. Գопрը ςօքጺላየ акէշ
Pesertadidik bertanya tentang hal yang belum dipahami atau guru menyampaikan beberapa pertanyaan pemicu kepada siswa berkaitan dengan yang akan selesai dipelajari PENUTUP (10 Menit) Peserta didik Membuat rangkuman/simpulan pelajaran.tentang point-point penting yang muncul dalam kegiatan pembelajaran yang baru dilakukan. Guru
Merekamenjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. Wallahu a’lam bish-shawab.
1 Sebagai manusia yang akan selalu berusaha untuk bekerja semaksimal mungkin, menurut ajaran islam etos kerja yang baik akan menghasilkan hal yang baik pula. Doa, usaha dan ikhtiar merupakan konsep kerja dalam islam, jelaskan konsep tersebut Usaha/Ikhtiar Seorang muslim diwajibkan untuk berikhtiar jika ingin mendapatkan sesuatu. Sebaliknya, bermalas-malasan
134Views. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216) Dalam ayat ini ada beberapa hikmah dan rahasia serta maslahat untuk seorang hamba. Karena sesungguhnya jika seorang hamba
.
  • l0bsadt2nf.pages.dev/172
  • l0bsadt2nf.pages.dev/410
  • l0bsadt2nf.pages.dev/185
  • l0bsadt2nf.pages.dev/59
  • l0bsadt2nf.pages.dev/89
  • l0bsadt2nf.pages.dev/308
  • l0bsadt2nf.pages.dev/210
  • l0bsadt2nf.pages.dev/465
  • allah akan mengganti yang lebih baik